|

Antusias; Puluhan Mahasswa Fakultas Tarbiyah saat mengikuti proses penyerahan peserta KKN

  • Kategori Berita : | Diposting Oleh: Website Builder
    Hari Minggu | 07 Januari 2016 | 16:13:56 WIB | Dibaca: 6459 Pembaca
Antusias; Puluhan Mahasswa Fakultas Tarbiyah saat mengikuti proses penyerahan peserta KKN

Keterangan :

Antusianya mahasiswa Program Studi PAI dan PGMI dalam mengikuti program Tahunan Institut Agama Islam Syarifuddin, pasalnya di tahun 2018 ini mahasiswa fakultas tarbiyah tidak ada satupun yang mengajukan Cuti (tidak seperti tahun sebelum-sbelumnya).

tahun ini jumlah keseluruhan mahasiswa yang mengikuti KKN sejumlah; 108 Mahasiswa. dari Prodi PAI : 66 orang dan Prodi PGMI sebanyak 42 orang

secara umum, IAI  Syarifuddin  melepas  ratusan  mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) di kecamatan Gucialit, kabupaten Lumajang ( 11/12/18). Kegiatan ini, merupakan pertanda dimulainya pelaksanaan KKN di enam desa di kecamatan Gucialit.

 

Hadir dalam  acara itu, camat Gucialit, Yudi Prasetyo, Kapolsek, Danramil,  Kepala Desa, Rektor IAI Syarifuddin, KH. M. Adnan Syarif, para Wakil Rektor, pendamping KKN, dosen, dan ratusan peserta KKN.

 

Ketua panitia KKN, H. M. Abdul Halim Sidiq, mejelaskan, kecamatan Gucialit merupakan miniatur Indonesia dan merupakan potret multikulturalisme. Karena daerah ini memiliki keragaman kultural yang berdampingan secara harmonis.

 

"Realitas sosial yang unik ini, menjadi alasan pihak kampus menempatkan KKN di kecamatan Gucialit,"  sambutnya.

 

Lebih lanjut, laki-laki yang biasa dipanggil H. Halim ini mengatakan, KKN ini menggunakan  metodologi  Participatory Action Research (PAR). Tujuannya, agar peserta KKN bisa bersama dengan masyarakat dalam melihat problem sosial dan menyelesaikan problem mereka sendiri.

 

"dalam metode ini, ada tiga komponen yang harus dilakukan peserta KKN, partisipasi, aksi dan penelitian ilmiah," ungkapnya.

 

Partisipasi diartikan dengan melibatkan masyarakat dalam melihat problem sosial mereka. Sehingga masyarakat tak hanya dijadikan objek, tetapi  masyarakat harus di jadikan subjek setelah berubah kesadarannya.

 

"Maka yang melakukan inisiatif haruslah masyarakat, karena mereka sebagai subjek," lanjutnya.

 

Aksi dimaknai peserta KKN bersama masyarakat melakukan aksi kongkrit sebagai reaksi dari perubahan kesadarannya. Semua kesadaran bergeraknya berasal dari masyarakat.

 

"Tapi semua partisipasi dan aksi ini harus berbasis ilmiah. Yaitu harus berdasarkan data-data. Maka KKN kali ini tak membawa program, karena memang program muncul dari masyarakat, " paparnya.

 

Semua peserta ini akan menempati  enam desa. Meraka berasal dari fakultas  Dakwah dan  Komunikasi  Islam, fakultas  Ekonomi Bisnis Islam, dan fakultas Tarbiyah.

 

" Mereka akan melaksanakan KKN selama 40 hari dari tanggal 11 Desember 2018 hingga 21 Januari 2019. Semoga KKN bisa bermasyarakat Gucialit"  tandasnya.

 

Jumlah mahasiswa yang dilepas kali ini sebanyak 211 mahasiswanya. Mereka berasal dari program studi PAI, PGMI, Manajemen Dakwah, Bimbingan Konseling Islam, Komunikasi Penyiaran Islam dan Ekonomi Syari’ah.

 

 

Wakil Rektor Tiga, H. Mohamad Darwis, menegaskan, sebagaimana amanat dari Rektor IAI Syarifuddin, para peserta KKN dilarang berpolitik dan berkonflik. 

 

"Maka konsekwensinya, jika ada ada peserta  KKN yang melakukan hal tersebut, akan ditarik dan tidak  diluluskan," jelasnya. Karena kegiatan KKN ini, murni proses akademik. KKN ini bagian dari Tri Dharma perguruan tinggi tentang pengabdian, Maka semua kegiatan harus berbasis penelitian," tambahnya.

 

Camat Gucialit, Yudi Prasetyo, meminta kepada peserta KKN bisa membaur dengan masyarakat. Belajar bersama masyarakat sebagaimana dari filosofi metode KKN-nya." Maka saya berharap peserta KKN bisa cepat menyesuaikan dengan masyarakat.  Dengan harapan, hasil dari KKN ini bisa bermanfaat masyarakat," tuturnya.

 

Sementara itu Firdaus Ahsanul Wahid, Mahasiswa KKN prodi Manajemen Dakwah mengatakan, bahwa metodologi PAR diterimanya di bangku kuliah. “PAR kita terima di bangku kuliah, nah di KKN ini tempat mempraktikkannya” tutupnya._Arif, One.

Berita Terkait